Imlek, Tahun Kuda, Dan Pertaruhan Arah Bangsa.
Tahun Baru Imlek bukan sekadar perayaan etnis. Ia adalah perayaan peradaban, momen refleksi tentang waktu, arah, dan kepemimpinan. Dalam kosmologi Tiongkok, Tahun Kuda (马) melambangkan energi gerak, mobilitas, dan daya juang. Kuda identik dengan keberanian dan kompetisi. Namun sejarah juga mengingatkan bahwa tenaga besar tanpa kendali dapat berubah menjadi kekacauan. Karena itu, simbol Kuda bukan hanya tentang kecepatan, melainkan tentang bagaimana energi diarahkan.
Di Tahun Kuda 2026, Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan energi. Dinamika politik, geliat pembangunan, dan ambisi ekonomi menunjukkan hasrat untuk terus bergerak. Namun di tengah laju tersebut, pertanyaan mendasarnya tetap sama mau ke mana arah gerak itu ditujukan?
Kita hidup dalam era percepatan. Sebut saja era digitalisasi, tekanan geopolitik, fragmentasi ekonomi global, hingga persaingan investasi di Asia Tenggara dimana semua ini menuntut respons yang sigap dan tepat. Namun ada kecenderungan dalam situasi ini, kecepatan sering diposisikan sebagai capaian utama. Proyek dipercepat, regulasi dipangkas, keputusan diambil dalam tempo singkat. Namun ketika kecepatan dijadikan ukuran keberhasilan, kedalaman kerap terabaikan. Narasi dibangun lebih cepat daripada substansi, citra dipoles lebih rapi daripada kebijakan dievaluasi.
Kecenderungan tersebut mencerminkan politik impresi, politik yang lebih sibuk memastikan segala sesuatu tampak bergerak daripada memastikan arah geraknya tepat. Respons terhadap opini publik lebih diutamakan dibanding perumusan gagasan jangka panjang. Kritik dibalas sebatas strategi komunikasi, bukan pembenahan struktural. Dalam konteks inilah, simbol Tahun Kuda berisiko direduksi menjadi sekadar legitimasi akselerasi, bukan momentum untuk menata ulang orientasi kebijakan.
Padahal, dalam tradisi filsafat politik, kecepatan bukanlah kebajikan utama. Aristoteles menyebut kebijaksanaan politik sebagai phronesis, yakni kemampuan mengambil keputusan yang tepat dalam konteks yang tepat. Ia menekankan keseimbangan antara keberanian dan kehati-hatian. Tanpa keseimbangan itu, kekuasaan mudah berubah menjadi administrasi yang serba cepat tetapi miskin refleksi moral. Maka sebuah pertanyaan menjadi relevan, menjadi apakah pemerintah hari ini berlari dengan arah yang jelas, atau sekadar memastikan diri tetap tampak bergerak?
Pertanyaan itu semakin mendesak jika dilihat dari konteks global. Asia tidak sekadar bergerak, ia berkompetisi dalam lanskap kekuatan yang kian cair. Tiongkok memperluas pengaruhnya melalui ekspansi ekonomi, penguasaan rantai pasok strategis, dan diplomasi infrastruktur yang sistematis. Negara-negara ASEAN pun mempercepat transformasi industri, memperkuat ketahanan energi dan pangan, serta membenahi iklim investasi agar adaptif terhadap perubahan global. Di tengah pusaran itu, Indonesia berambisi tampil sebagai kekuatan regional yang diperhitungkan.
Namun ambisi geopolitik tidak cukup ditopang oleh retorika pertumbuhan. Daya saing tidak berhenti pada pembangunan fisik atau angka makroekonomi yang impresif di atas kertas. Ia bertumpu pada kualitas institusi yang independen, konsistensi regulasi yang tidak mudah berubah oleh kepentingan jangka pendek, kepastian hukum yang melindungi investasi sekaligus hak warga, serta keberanian menegakkan akuntabilitas tanpa pandang bulu. Tanpa fondasi institusional yang kokoh, setiap lompatan ekonomi berisiko rapuh, dan ambisi besar mudah berubah menjadi slogan yang kehilangan daya tahan ketika diuji oleh krisis.
Di sinilah makna Imlek menemukan relevansinya dalam konteks kebangsaan. Di Indonesia, Imlek bukan sekadar perayaan budaya, melainkan penanda perjalanan sejarah bangsa dalam merawat keberagaman. Ia pernah mengalami pembatasan, lalu kembali dirayakan secara terbuka sebagai bagian sah dari identitas nasional. Pengalaman itu menunjukkan bahwa negara belajar, dan bahwa arah kebijakan dapat diperbaiki.
Karena itu, Imlek mengingatkan bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi pluralitas. Keberagaman bukan aksesori kebangsaan, melainkan inti dari kontrak sosial yang menyatukan berbagai identitas dalam satu kerangka konstitusional. Momentum Tahun Kuda semestinya tidak hanya dimaknai sebagai dorongan untuk bergerak lebih cepat, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperkuat komitmen terhadap kesetaraan warga negara dan penghormatan terhadap hak-hak sipil.
Pada akhirnya, makna Imlek melampaui seremoni. Ia menjadi pengingat bahwa negara yang kuat bukanlah negara yang seragam, melainkan negara yang mampu menjaga kebinekaan sebagai energi persatuan. Di setiap pergantian tahun, harapan itu diperbarui, agar Indonesia tidak hanya bergerak cepat, tetapi juga bergerak dengan arah yang jelas,adil, inklusif, dan setia pada semangat konstitusinya.
Jakarta, 17 Feb 2026
Pustaka Aristoteles ( Saskia Ubaidi)
Comments