Posts

Dari Tata Niaga Orde Baru ke Danantara

Image
Dari Tata Niaga Orde Baru ke Danantara Oleh: Saskia Ubaidi Ketika pemerintah memperkenalkan Danantara Sumberdaya Indonesia sebagai pengelola perdagangan komoditas strategis nasional, saya justru teringat masa pertengahan 1990-an hingga awal 2000-an, saat saya banyak berinteraksi dengan lingkungan tata niaga teh, pemasaran hasil perkebunan negara, serta perdagangan ekspor komoditas perkebunan Indonesia. Pada masa itu, Indonesia sebenarnya telah mengenal pola pemasaran bersama dalam perdagangan komoditas ekspor. Perdagangan teh tidak sepenuhnya bergerak bebas melalui masing-masing perusahaan, melainkan berada dalam sebuah ekosistem yang melibatkan koordinasi pemasaran, jalur ekspor, hubungan dengan kantor pemasaran bersama, hingga keterhubungan dengan institusi perdagangan negara. Di sana saya melihat bagaimana negara, perdagangan, dan komoditas saling terhubung dalam satu rantai ekonomi yang terstruktur. Komoditas bukan sekadar barang dagangan, tetapi bagian dari strategi ek...

Batavia dan Lahirnya Manusia Indonesia Modern

Image
Batavia dan Lahirnya Manusia Indonesia Modern Pada awal abad ke-20, Batavia bukan sekadar pusat pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Kota itu perlahan berubah menjadi ruang pertemuan berbagai gagasan besar dunia. Di balik gedung-gedung administrasi kolonial, pelabuhan, sekolah modern, dan percetakan surat kabar, sedang tumbuh sesuatu yang jauh lebih penting sebuah kesadaran baru tentang bangsa, kemerdekaan, dan manusia modern. Melalui Politik Etis, Belanda mulai membuka akses pendidikan bagi sebagian kecil pribumi. Dari sekolah-sekolah seperti HBS dan STOVIA lahir generasi muda yang mulai bersentuhan dengan filsafat, politik, ekonomi, dan pemikiran modern Eropa. Mereka tidak lagi hanya belajar membaca dan berhitung, tetapi mulai mempertanyakan mengapa bangsanya dijajah dan bagaimana sebuah bangsa dapat berdiri merdeka. Buku-buku dan surat kabar dari Eropa masuk bersama kapal dagang dan jaringan percetakan modern. Nama-nama seperti Jean-Jacques Rousseau, Karl Marx, Voltaire...

28 Tahun Reformasi: Demokrasi Tanpa Wajah

Image
Dua puluh delapan tahun setelah Reformasi 1998, Indonesia hidup dalam sebuah paradoks. Kita memang tidak lagi berada di era otoritarianisme seperti Orde Baru, tetapi di tengah keterbukaan demokrasi hari ini muncul kegelisahan baru bahwa kebebasan politik belum sepenuhnya diikuti rasa keadilan dan keterwakilan yang nyata bagi masyarakat. Secara formal, Indonesia memang tampak semakin demokratis. Pemilu berlangsung rutin, pers jauh lebih terbuka, pergantian presiden berjalan melalui mekanisme konstitusional, dan kritik terhadap pemerintah tidak lagi dibungkam seperti pada masa lalu. Namun di tengah keterbukaan itu, muncul kegelisahan baru bahwa kekuasaan tetap terasa jauh dari rakyat biasa. Reformasi pada akhirnya tidak benar-benar menghapus relasi kuasa, melainkan lebih banyak mengubah bentuk dan cara kerjanya. Di sinilah paradoks demokrasi pasca-Reformasi mulai terlihat. Masyarakat memang memiliki ruang yang jauh lebih besar untuk berbicara dan menyampaikan pendapat. Namun ...

Indonesia di Antara China dan Rusia: Membaca Kedekatan, Menentukan Posisi

Image
Indonesia di Antara China dan Rusia: Membaca Kedekatan, Menentukan Posisi China dan Rusia hari ini tampak berjalan beriringan. Pertemuan pemimpin, kerja sama energi, serta kesamaan sikap dalam menghadapi Barat membuat keduanya sering dibaca sebagai satu blok kekuatan baru. Namun jika dilihat lebih dalam, hubungan antara China dan Rusia bukanlah aliansi yang lahir dari kesamaan nilai. Ia lebih tepat dipahami sebagai pertemuan kepentingan alignment of interest, not alignment of values. China bergerak sebagai kekuatan ekonomi masa depan. Dalam beberapa dekade terakhir, transformasi ekonominya menunjukkan kemampuan negara untuk mengelola pertumbuhan dengan kombinasi kontrol pusat dan fleksibilitas lokal, sebuah model yang sering dibaca sebagai adaptasi khas, bukan sekadar adopsi Barat. Di sisi lain, Rusia berdiri sebagai kekuatan yang berbeda: tidak dominan secara ekonomi global, tetapi tetap memiliki pengaruh besar melalui kekuatan militer dan sumber daya energi. Dua karakter ...

Pancasila: Way of Life atau Way of Speech? Refleksi di Era Prabowo

Image
Pancasila begitu dekat dengan kehidupan kita. Ia bukan sekadar lima sila yang dihafal, melainkan cara bangsa ini membangun kehidupan berbangsa dan bertanah air.  Pancasila dengan lambang hurung Garuda, sebagai perekat yang menyatukan setiap anak bangsa, menjaga persatuan dalam keberagaman, menjadi pedoman dalam memperlakukan sesama dengan martabat, serta menjalankan kekuasaan dengan tanggung jawab, demi mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sejak awal dirumuskan oleh Soekarno, Pancasila tidak pernah dimaksudkan sebagai doktrin yang kaku. Ia adalah way of life, sebuah philosophische grondslag (dasar filsafat) yang menjadi cara bangsa ini memahami manusia, kekuasaan, dan keadilan dalam keseimbangan yang khas. Pada Orde lama, Presiden Soekarno mencoba merumuskan keseimbangan melalui konsep Nasakom—nasionalisme, agama, dan komunisme  dengan Pancasila sebagai landasan pemersatunya. Dalam konteks ini, Pancasila tidak dihapus atau ditinggalkan, tetapi justru...

Pola Pengulangan Sejarah (yang sering tidak disadari)

Image
Pola Pengulangan Sejarah (yang sering tidak disadari) Ada kecenderungan dalam cara kita memandang sejarah dimana kita menganggapnya sebagai sesuatu yang sudah selesai, padahal ia terus hidup dalam pola yang berulang. Seolah-olah sejarah berada jauh di belakang kita, terpisah dari hari ini. Padahal, ia tidak pernah benar-benar berlalu, ia bergerak dalam pola. Dan sering kali, tanpa sadar, kita sedang mengulangnya. Perubahan zaman memang nyata. Teknologi berkembang, sistem politik berganti, wajah para pemimpin terus berganti. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang tetap sama. Cara manusia berpikir, merespons kekuasaan, dan menghadapi ketidakpastian. Semua itu ambisi tetap menjadi  ambisi . Ketakutan pun tetap ketakutan . Keinginan untuk menguasai, untuk diakui, untuk bertahan semuanya tidak pernah benar-benar berubah. Di titik inilah sejarah menjadi menarik. Ia bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan cermin yang diam-diam memantulkan pola yang sama berulang kali....