Posts

Indonesia di Antara China dan Rusia: Membaca Kedekatan, Menentukan Posisi

Image
Indonesia di Antara China dan Rusia: Membaca Kedekatan, Menentukan Posisi China dan Rusia hari ini tampak berjalan beriringan. Pertemuan pemimpin, kerja sama energi, serta kesamaan sikap dalam menghadapi Barat membuat keduanya sering dibaca sebagai satu blok kekuatan baru. Namun jika dilihat lebih dalam, hubungan antara China dan Rusia bukanlah aliansi yang lahir dari kesamaan nilai. Ia lebih tepat dipahami sebagai pertemuan kepentingan alignment of interest, not alignment of values. China bergerak sebagai kekuatan ekonomi masa depan. Dalam beberapa dekade terakhir, transformasi ekonominya menunjukkan kemampuan negara untuk mengelola pertumbuhan dengan kombinasi kontrol pusat dan fleksibilitas lokal, sebuah model yang sering dibaca sebagai adaptasi khas, bukan sekadar adopsi Barat. Di sisi lain, Rusia berdiri sebagai kekuatan yang berbeda: tidak dominan secara ekonomi global, tetapi tetap memiliki pengaruh besar melalui kekuatan militer dan sumber daya energi. Dua karakter ...

Pancasila: Way of Life atau Way of Speech? Refleksi di Era Prabowo

Image
Pancasila begitu dekat dengan kehidupan kita. Ia bukan sekadar lima sila yang dihafal, melainkan cara bangsa ini membangun kehidupan berbangsa dan bertanah air.  Pancasila dengan lambang hurung Garuda, sebagai perekat yang menyatukan setiap anak bangsa, menjaga persatuan dalam keberagaman, menjadi pedoman dalam memperlakukan sesama dengan martabat, serta menjalankan kekuasaan dengan tanggung jawab, demi mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sejak awal dirumuskan oleh Soekarno, Pancasila tidak pernah dimaksudkan sebagai doktrin yang kaku. Ia adalah way of life, sebuah philosophische grondslag (dasar filsafat) yang menjadi cara bangsa ini memahami manusia, kekuasaan, dan keadilan dalam keseimbangan yang khas. Pada Orde lama, Presiden Soekarno mencoba merumuskan keseimbangan melalui konsep Nasakom—nasionalisme, agama, dan komunisme  dengan Pancasila sebagai landasan pemersatunya. Dalam konteks ini, Pancasila tidak dihapus atau ditinggalkan, tetapi justru...

Pola Pengulangan Sejarah (yang sering tidak disadari)

Image
Pola Pengulangan Sejarah (yang sering tidak disadari) Ada kecenderungan dalam cara kita memandang sejarah dimana kita menganggapnya sebagai sesuatu yang sudah selesai, padahal ia terus hidup dalam pola yang berulang. Seolah-olah sejarah berada jauh di belakang kita, terpisah dari hari ini. Padahal, ia tidak pernah benar-benar berlalu, ia bergerak dalam pola. Dan sering kali, tanpa sadar, kita sedang mengulangnya. Perubahan zaman memang nyata. Teknologi berkembang, sistem politik berganti, wajah para pemimpin terus berganti. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang tetap sama. Cara manusia berpikir, merespons kekuasaan, dan menghadapi ketidakpastian. Semua itu ambisi tetap menjadi  ambisi . Ketakutan pun tetap ketakutan . Keinginan untuk menguasai, untuk diakui, untuk bertahan semuanya tidak pernah benar-benar berubah. Di titik inilah sejarah menjadi menarik. Ia bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan cermin yang diam-diam memantulkan pola yang sama berulang kali....

Pemerintah Bukan Negara

Image
Pemerintah Bukan Negara Dalam rubrik Surat Kepada Redaksi harian Kompas, sebuah tulisan berjudul “ Pemerintah Bukan Negara ” menyoroti kebiasaan yang kerap muncul dalam perbincangan publik yang menyamakan pemerintah dengan negara. Ungkapan “negara tidak hadir” sering digunakan untuk menggambarkan berbagai kegagalan kebijakan atau pelayanan publik. Namun tulisan singkat itu justru mengingatkan pada hal yang lebih mendasr bahwa negara dan pemerintah sebenarnya bukanlah konsep yang sama. Dalam ilmu politik, negara dipahami sebagai entitas politik yang relatif permanen. Ia terdiri dari wilayah, rakyat, kedaulatan, serta berbagai lembaga yang menopangnya. Pemerintah hanyalah salah satu unsur dari negara, yakni pihak yang untuk sementara waktu diberi mandat untuk mengelola dan menjalankan negara tersebut. Dengan kata lain, pemerintah adalah pengurus negara dalam suatu periode tertentu, sementara negara tetap ada sebagai struktur politik yang lebih luas daripada pemeri...

Imlek, Tahun Kuda, Dan Pertaruhan Arah Bangsa.

Image
Tahun Baru Imlek bukan sekadar perayaan etnis. Ia adalah perayaan peradaban, momen refleksi tentang waktu, arah, dan kepemimpinan. Dalam kosmologi Tiongkok, Tahun Kuda (马) melambangkan energi gerak, mobilitas, dan daya juang. Kuda identik dengan keberanian dan kompetisi. Namun sejarah juga mengingatkan bahwa tenaga besar tanpa kendali dapat berubah menjadi kekacauan. Karena itu, simbol Kuda bukan hanya tentang kecepatan, melainkan tentang bagaimana energi diarahkan. Di Tahun Kuda 2026, Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan energi. Dinamika politik, geliat pembangunan, dan ambisi ekonomi menunjukkan hasrat untuk terus bergerak. Namun di tengah laju tersebut, pertanyaan mendasarnya tetap sama mau ke mana arah gerak itu ditujukan? Kita hidup dalam era percepatan. Sebut saja era digitalisasi, tekanan geopolitik, fragmentasi ekonomi global, hingga persaingan investasi di Asia Tenggara dimana semua ini menuntut respons yang sigap dan tepat. Namun ada kecenderungan dalam situasi...

Rumah yang Menunggu

Image
 Rumah yang Menunggu Desember di Jakarta tidak pernah benar-benar dingin. Sejak pagi, langit tampak rendah dan kelabu, seolah enggan meninggi. Sisa hujan semalam menyisakan udara lembap yang menempel di kulit. Napas terasa agak sesak, bukan karena udara, melainkan karena kota diapit deretan gedung tinggi yang berdiri terlalu rapat. Mungkin terlalu sedikit ruang bagi Jakarta untuk bernapas lega. Ada yang menarik perhatian kaum urban, sebuah rumah tua yang berdiri seperti anak tiri kosmopolitan, dibiarkan begitu saja. Ia tidak dirawat sepenuhnya, juga tidak benar-benar dimusnahkan. Langit-langitnya tetap tinggi, jendelanya lebar, pintunya dari jati tua yang berat, seolah rumah itu masih berpegang pada aturan lama tentang udara dan cahaya. Angin datang, berhenti sebentar di ambang, lalu memutuskan untuk tidak masuk. Dinding apartemen di seberang telah lebih dulu menutup hembusan angin , barangkali angin lebih memilih bangunan yang muda dan cantik menurut selera zaman. Rumah itu ta...

Mengapa Kita Selalu Merasa Ada yang Kurang?

Image
  Mengapa Kita Selalu Merasa Ada yang Kurang? Sejak kecil, setiap dari kita membawa sesuatu yang sulit dijelaskan. Ada sebuah ruang kecil dalam diri yang tidak pernah benar-benar terisi. Ia muncul diam-diam. Mungkin kita pernah merasakan saat kita masih kecil ditinggal ibu sebentar atau saat teman tidak mengajak bermain, bahkan saat jatuh cinta, lalu menyadari, ada rindu yang tak bisa disampaikan. Dan  hal ini bisa terjadi juga ketika ada pencapaian besar, ternyata tak membahagiakan seperti yang kita kira. Ruang itu tidak pernah hilang. Ia tumbuh bersama usia, bersembunyi di balik ambisi, cinta, keberhasilan, kekalahan, dan doa. Sebagian orang mengira itu luka. Sebagian mengira itu kekurangan. Tetapi bagaimana jika justru ruang kecil itu adalah pusat dari siapa kita? Cerita Tuti memberi kita jalan masuk untuk memahami hal itu. Saat masih bayi, Tuti selalu tidur di pangkuan ibunya, dalam dunia kecil yang hangat dan utuh. Tidak ada kata, tidak ada batas, tidak ada jarak. D...