Posts

Imlek, Tahun Kuda, Dan Pertaruhan Arah Bangsa.

Image
Tahun Baru Imlek bukan sekadar perayaan etnis. Ia adalah perayaan peradaban, momen refleksi tentang waktu, arah, dan kepemimpinan. Dalam kosmologi Tiongkok, Tahun Kuda (马) melambangkan energi gerak, mobilitas, dan daya juang. Kuda identik dengan keberanian dan kompetisi. Namun sejarah juga mengingatkan bahwa tenaga besar tanpa kendali dapat berubah menjadi kekacauan. Karena itu, simbol Kuda bukan hanya tentang kecepatan, melainkan tentang bagaimana energi diarahkan. Di Tahun Kuda 2026, Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan energi. Dinamika politik, geliat pembangunan, dan ambisi ekonomi menunjukkan hasrat untuk terus bergerak. Namun di tengah laju tersebut, pertanyaan mendasarnya tetap sama mau ke mana arah gerak itu ditujukan? Kita hidup dalam era percepatan. Sebut saja era digitalisasi, tekanan geopolitik, fragmentasi ekonomi global, hingga persaingan investasi di Asia Tenggara dimana semua ini menuntut respons yang sigap dan tepat. Namun ada kecenderungan dalam situasi...

Rumah yang Menunggu

Image
 Rumah yang Menunggu Desember di Jakarta tidak pernah benar-benar dingin. Sejak pagi, langit tampak rendah dan kelabu, seolah enggan meninggi. Sisa hujan semalam menyisakan udara lembap yang menempel di kulit. Napas terasa agak sesak, bukan karena udara, melainkan karena kota diapit deretan gedung tinggi yang berdiri terlalu rapat. Mungkin terlalu sedikit ruang bagi Jakarta untuk bernapas lega. Ada yang menarik perhatian kaum urban, sebuah rumah tua yang berdiri seperti anak tiri kosmopolitan, dibiarkan begitu saja. Ia tidak dirawat sepenuhnya, juga tidak benar-benar dimusnahkan. Langit-langitnya tetap tinggi, jendelanya lebar, pintunya dari jati tua yang berat, seolah rumah itu masih berpegang pada aturan lama tentang udara dan cahaya. Angin datang, berhenti sebentar di ambang, lalu memutuskan untuk tidak masuk. Dinding apartemen di seberang telah lebih dulu menutup hembusan angin , barangkali angin lebih memilih bangunan yang muda dan cantik menurut selera zaman. Rumah itu ta...

Mengapa Kita Selalu Merasa Ada yang Kurang?

Image
  Mengapa Kita Selalu Merasa Ada yang Kurang? Sejak kecil, setiap dari kita membawa sesuatu yang sulit dijelaskan. Ada sebuah ruang kecil dalam diri yang tidak pernah benar-benar terisi. Ia muncul diam-diam. Mungkin kita pernah merasakan saat kita masih kecil ditinggal ibu sebentar atau saat teman tidak mengajak bermain, bahkan saat jatuh cinta, lalu menyadari, ada rindu yang tak bisa disampaikan. Dan  hal ini bisa terjadi juga ketika ada pencapaian besar, ternyata tak membahagiakan seperti yang kita kira. Ruang itu tidak pernah hilang. Ia tumbuh bersama usia, bersembunyi di balik ambisi, cinta, keberhasilan, kekalahan, dan doa. Sebagian orang mengira itu luka. Sebagian mengira itu kekurangan. Tetapi bagaimana jika justru ruang kecil itu adalah pusat dari siapa kita? Cerita Tuti memberi kita jalan masuk untuk memahami hal itu. Saat masih bayi, Tuti selalu tidur di pangkuan ibunya, dalam dunia kecil yang hangat dan utuh. Tidak ada kata, tidak ada batas, tidak ada jarak. D...

Mimpi tentang Sepatu yang Rusak, Catatan dari Alam Bawah Sadar

Image
Mimpi tentang Sepatu yang Rusak Catatan dari Alam Bawah Sadar Siang itu, di antara lelah dan kantuk, Si A tertidur. Dalam tidurnya yang sebentar, ia bermimpi ikut dalam sebuah gladi resik kegiatan besar, semacam atraksi yang menggabungkan gerak, keseimbangan, dan keberanian. Bisa dikatakan mirip ice  skating, tapi bukan di atas air melainkan  sebuah lantai yang memiliki lapisan khusus semacam marmer. Sudah pasti atraksi di mana tubuh dan pikiran harus bekerja dalam keserasian penuh macam seorang penari yang sangat luwes.  Entah dari mana datangnya, tapi ia tahu bahwa atraksi ini berasal dari sebuah kelompok seni besar dari Tiongkok, negara yang dalam ingatannya selalu identik dengan disiplin, keteraturan, dan harmoni yang nyaris matematis. Di tengah latihan itu, sepatunya tiba-tiba rusak. Talinya putus, solnya mengelupas. Ia berhenti di tengah lintasan dan memandangi alas kaki itu seolah baru menyadari betapa rapuhnya benda yang selama ini menopang langkahnya....

Dunia yang membusuk dari dalam: Analisa Samir Amin atas Krisis Sistim Dunia Kontemporer

Image
The implosion Of Contemporary Capitalism (Samir Amin) Ketika Kapitalisme Membusuk dari Dalam: Membaca Samir Amin dan Keruntuhan Dunia Modern Pernahkah kita merasa dunia ini terus bergerak, tapi bukan menuju kemajuan, melainkan perlahan ke arah kehancuran? Harga-harga terus naik, bumi memanas, kesenjangan makin tajam, anehnya, semua itu terasa begitu “biasa”. Seolah penderitaan struktural sudah menjadi bagian alami dari kehidupan modern. Kita menyebutnya “dinamika ekonomi global”, padahal sesungguhnya kita sedang hidup di tengah sistem yang pelan-pelan membusuk dari dalam. Pemikir ekonomi-politik Mesir-Prancis, Samir Amin, sudah melihat gejala ini sejak awal 2000-an. Dalam karyanya The Implosion of Contemporary Capitalism (2013), ia menulis dengan nada muram sekaligus tajam: “ Capitalism today reproduces itself only through crisis. Its expansion has reached its limits; what remains is implosion.” Kapitalisme, menurut Amin, bukan lagi sistem yang tumbuh, melainkan sistem yang...

Rumah Politik Kita dalam Cermin Aristoteles

Image
Rumah Politik Kita dalam Cermin Aristoteles Bayangkan sebuah rumah besar bernama Indonesia. Dari luar, ia tampak kokoh dan megah. Namun ketika kita masuk, kita menemukan penghuni yang tak selalu hidup harmonis, partai-partai politik dengan wajah, luka, dan ambisinya masing-masing. Aristoteles dalam Politics menulis, “Man is by nature a political animal” [^1] , manusia hanya dapat mewujudkan kodratnya melalui kehidupan politik bersama. Tetapi ia juga menegaskan, polis tidak akan bertahan hanya dengan kekuasaan, melainkan dengan kebajikan moral yang menopang setiap penghuninya. Di ruang tamu kita bertemu PSI, partai muda yang penuh energi dan percaya diri, lantang menyatakan, “Kami solid!”. Namun Aristoteles dalam Nicomachean Ethics mengingatkan, “ The good for man is an activity of the soul in accordance with virtue ”[^2]. Pertanyaan muncul, apakah soliditas PSI sudah merupakan areté, kebajikan yang matang atau hanya semangat remaja yang masih mencari bentuk? Tak jauh dari s...

Parlemen Joget, Demokrasi Retak

Image
Parlemen Joget, Demokrasi Retak Baru saja kita memperingati Dirgahayu Republik Indonesia ke-80. Delapan dekade merdeka seharusnya menjadi penanda kedewasaan demokrasi. Tetapi pertanyaan pun muncul, benarkah demokrasi kita telah matang. Pemandangan anggota DPR berjoget di ruang sidang yang viral belakangan ini bukan sekadar tontonan sepele, melainkan cermin dari kultur politik yang dangkal.  Mahal Ongkos Politik, Murah Integritas Joget itu lahir bukan tanpa sebab. Bagi sebagian anggota dewan, itu bukan sekadar hiburan, melainkan cara merayakan tunjangan dan fasilitas baru yang mereka nikmati. Saat rakyat bergulat dengan biaya hidup, mereka justru merayakan euforia kegembiraan di ruang sidang. Bukannya bekerja serius melahirkan regulasi dan pengawasan, mereka memilih panggung hiburan yang mudah viral. Tak heran jika aksi itu semakin memperlebar jarak dengan rakyat dan memantik kemarahan yang akhirnya meledak dalam demonstrasi di jalanan. Masalah DPR tidak lahir di ruang s...