Merdeka di Bawah Lampu Kristal
Merdeka di Bawah Lampu Kristal Pagi itu Merah Putih kembali naik. Tegak. Khidmat. Delapan puluh satu tahun sudah republik ini merdeka. (1) Dari langit-langit Istana, aku, lampu kristal, menyaksikannya. Sudah lama aku menggantung di sini. Melihat presiden datang dan pergi, pejabat berganti wajah, tamu-tamu berdasi, perempuan berkebaya, dan pesta yang selalu punya alasan untuk berkilau. Hari itu cahayaku kembali jatuh pada kain-kain terbaik, perhiasan, senyum, dan kamera. Semua tampak merdeka di bawah cahaya. Aku hanya tidak tahu seberapa jauh cahayaku sampai ke luar pagar Istana. --- Dulu, pakaian terbaik dikenakan untuk menghormati upacara. Kini, ada yang ikut dipertaruhkan: siapa paling memesona, siapa paling berkilau, siapa paling pantas ditangkap kamera. Upacara tetap khidmat. Hanya kemewahan ikut berebut perhatian. “Cantik sekali.” “Bajunya dari siapa?” “Eh, itu artis yang kemarin masuk TV, kan?” Seorang veteran mungkin tersenyum kecil. Dulu ia datang dengan ...