Merdeka di Bawah Lampu Kristal


Merdeka di Bawah Lampu Kristal


Pagi itu Merah Putih kembali naik.
Tegak.
Khidmat.


Dari langit-langit Istana,
aku, lampu kristal, menyaksikannya.

Sudah lama aku menggantung di sini.
Melihat presiden datang dan pergi,
pejabat berganti wajah,
tamu-tamu berdasi,
perempuan berkebaya,
dan pesta yang selalu punya alasan untuk berkilau.

Hari itu cahayaku kembali jatuh
pada kain-kain terbaik,
perhiasan, senyum, dan kamera.

Semua tampak merdeka
di bawah cahaya.

Aku hanya tidak tahu
seberapa jauh cahayaku
sampai ke luar pagar Istana.

---

Dulu, pakaian terbaik dikenakan
untuk menghormati upacara.

Kini, ada yang ikut dipertaruhkan:
siapa paling memesona,
siapa paling berkilau,
siapa paling pantas ditangkap kamera.

Upacara tetap khidmat.
Hanya kemewahan ikut berebut perhatian.
“Cantik sekali.”
“Bajunya dari siapa?”
“Eh, itu artis yang kemarin masuk TV, kan?”

Seorang veteran mungkin tersenyum kecil.
Dulu ia datang dengan seragam
yang tak sempat dipikirkan
cocok atau tidak dengan warna sepatu.

Sebab peluru tidak pernah bertanya
siapa desainernya.

---

Istana memang harus megah.
Ia rumah negara.

Tiangnya harus kokoh,
benderanya harus tinggi,
upacaranya harus khidmat.

Tetapi megah
tidak selalu berarti glamor.

Kemegahan membuat orang
menghormati negara.

Keglamoran punya bahasa sendiri.

Di bawah cahayaku,
tas jinjing seharga seribu kali upah harian
tampak berkilau.

Kebaya berpayet mutu manikam
dari penjuru kepulauan
ikut mencuri pandang.

Dan mereka yang ditempatkan
di barisan depan
disebut tamu kehormatan.

Aku menerangi semuanya.

Entah sejak kapan,
cahaya juga mengenal
siapa yang duduk di barisan depan.

---

Di luar pagar,
seorang ibu penjaja minuman kemasan
menghitung hasil dagangan.

Bukan karena ia tak nasionalis
atau tak ingin ikut merayakan kemerdekaan.

Ia hanya berharap
dagangannya laris hari itu.

Seharga selembar seratus ribu
sudah punya banyak tujuan:
beras,
telur,
minyak,
dan ongkos anaknya sampai Jumat.

Dari televisi di pinggir jalan,
kamera bergerak perlahan.
Kebaya.
Pakaian adat.
Perhiasan.
Senyuman.
Tepuk tangan.
Tuan dan nyonya semerbak wangi.
Republik pun harum sekali hari itu.

Untung kamera
belum bisa merekam
bau keringat rakyat di luar pagar.

Sang ibu tersenyum,
Antara bangga dan pilu 

“Bagus, ya.”

Lalu kembali menatap dagangannya
Seratus ribu tetap seratus ribu.
Merdeka memang belum pernah
membuat matematika
kehilangan kekejamannya.

---

Di tempat lain,
Bima Sakti menatap layar televisi.

Namanya adalah doa ibunya:
agar kelak ia menjadi orang besar.

Siaran Istana tiba di rumah mereka
yang belum lunas dicicil ibunya.

Di layar,
kebaya dan kemewahan berkilauan.

Bima menoleh kepada ibunya.
“Bu, kalau mau masuk Istana,
harus jadi artis?”

Ibunya tertawa.
“Tidak, nak. Istana milik rakyat.”

Bima mengangguk.
Lalu bertanya lagi,
“Kalau begitu, kenapa rakyat
lebih sering melihatnya dari layar?”

Ibunya diam.

Anak kecil memang berbahaya.

Mereka belum belajar
cara mengajukan pertanyaan
yang sopan kepada kekuasaan.

---

Tentu tidak ada yang salah dengan pesta.
Negeri yang pernah dijajah
berhak bergembira.

Menari.
Bernyanyi.
Mengenakan pakaian terbaiknya.

Zaman memang berubah.
Dahulu orang menunggu pidato Presiden.

Kini orang bertanya:
“Siapa yang hadir?”
“Siapa yang paling mencuri perhatian?”
“Siapa yang paling elegan?”

Sejarah pun harus bersaing dengan tontonan.

Proklamasi bisa kalah sorotan
dari pakaian seorang tamu.

Jangan sampai kita terlalu sibuk
membuat kemerdekaan tampak indah,
hingga lupa membuatnya terasa nyata.

Sebab republik bukan peragaan kemewahan.
Rakyat bukan penonton kemerdekaan.
Dan Istana bukan panggung
untuk mencari tepuk tangan.

---

Aku, lampu kristal,
tidak meminta Istana menjadi muram.

Tidak.

Pasanglah musik.
Menarilah.
Undanglah seniman.
Rayakan Indonesia.

Aku akan tetap menyala.

Tetapi sisakan sedikit ruang
untuk mengingat:

kemerdekaan ini dahulu dibayar
bukan dengan undangan istimewa,
bukan dengan kepentingan
bagi yang pandai menyebut dirinya
demi kepentingan rakyat,
bukan juga dengan sorotan kamera,

melainkan dengan sesuatu
yang jauh lebih mahal:

pengorbanan.

---

Malam tiba.
Aku masih menyala
di langit-langit Istana.

Foto-foto sudah beredar.
Video sudah viral.
Para tamu pulang membawa kenangan.

Rakyat kembali
kepada kehidupan masing-masing.

Besok pagi,
pasar kembali buka.
Ojol kembali mencari order.
Buruh kembali bekerja.
Petani kembali ke sawah.
Pedagang kembali menghitung dagangan.
Anak-anak kembali ke sekolah.

Indonesia kembali menjadi Indonesia.
Tanpa lampu panggung.
Tanpa kamera.
Tanpa kemewahan sehari.

Mungkin justru di sanalah
kemerdekaan seharusnya diuji.

Bukan pada seberapa gemerlap
kita merayakannya sehari,

tetapi pada seberapa layak
rakyat menjalani hidupnya
selama tiga ratus enam puluh empat hari berikutnya.

Dirgahayu Republik Indonesia.
Biarkan Istana tetap megah.
Biarkan aku, lampu kristal,
tetap menyala.

Hanya satu yang kuharap:

jangan sampai cahayaku begitu gemerlap
hingga negeri ini lupa melihat
mereka yang hidup
di luar cahaya.

Jakarta, 19 Agustus 2026
Saskia Ubaidi (Pustaka Aristoteles)


Catatan:
(1). Peringatan HUT ke-81 RI 2026. Sekretariat Negara menyediakan laman resmi HUT ke-81, termasuk keputusan panitia, tema, identitas visual, dan pedoman peringatan.
(https://www.setneg.go.id/view/index/peringatan_hari_ulang_tahun_ke_81_kemerdekaan_republik_indonesia_tahun_2026?utm_source=chatgpt.com)

(2) Set-top box (STB). Komdigi menjelaskan bahwa STB DVB-T2 memungkinkan televisi analog menerima siaran TV digital dan bahwa program migrasi digital





Comments

Popular posts from this blog

Nietzsche, Rousseau, Marx. Formula Tan Malaka

Jalur Pendidikan HBS - Hogereburgerschool

Parlemen Joget, Demokrasi Retak