Posts

Showing posts with the label cerpen #lasasqi

Rumah yang Menunggu

Image
 Rumah yang Menunggu Desember di Jakarta tidak pernah benar-benar dingin. Sejak pagi, langit tampak rendah dan kelabu, seolah enggan meninggi. Sisa hujan semalam menyisakan udara lembap yang menempel di kulit. Napas terasa agak sesak, bukan karena udara, melainkan karena kota diapit deretan gedung tinggi yang berdiri terlalu rapat. Mungkin terlalu sedikit ruang bagi Jakarta untuk bernapas lega. Ada yang menarik perhatian kaum urban, sebuah rumah tua yang berdiri seperti anak tiri kosmopolitan, dibiarkan begitu saja. Ia tidak dirawat sepenuhnya, juga tidak benar-benar dimusnahkan. Langit-langitnya tetap tinggi, jendelanya lebar, pintunya dari jati tua yang berat, seolah rumah itu masih berpegang pada aturan lama tentang udara dan cahaya. Angin datang, berhenti sebentar di ambang, lalu memutuskan untuk tidak masuk. Dinding apartemen di seberang telah lebih dulu menutup hembusan angin , barangkali angin lebih memilih bangunan yang muda dan cantik menurut selera zaman. Rumah itu ta...

Pita Kuning di Pohon Tua (Tie a Yellow Ribbon Round the Ole Oak Tree)

Pita Kuning di Pohon Tua Tie a Yellow Ribbon Round the Ole Oak Tree Sudah tiga tahun sejak Raka pergi. Katanya demi masa depan yang lebih baik, tapi bagi Sinta, kepergian itu hanya menyisakan tanda tanya. Ia masih ingat janji yang pernah diucapkan Raka sebelum berangkat. “Kalau kau masih menginginkanku pulang, ikatkan pita kuning di pohon itu.” Tapi kini, di hadapan pohon besar yang dulu mereka jadikan tempat berbagi impian, hatinya diliputi keraguan. Jemarinya sedikit gemetar saat mengikat pita kuning di batang pohon. “Jika kau masih ingat, kau akan melihatnya,” bisiknya pelan. Hari berlalu, malam berganti. Hingga pagi itu, suara deru bus membuyarkan lamunannya. Raka berdiri di sana. Wajahnya lelah, tapi matanya penuh harap. Namun yang membuatnya terpaku bukan hanya Sinta, melainkan pohon yang kini penuh dengan ratusan pita kuning yang berkibar diterpa angin. Ia tertawa kecil, “Sebenarnya satu saja cukup,” gumamnya. Sinta tersenyum, lalu melangkah mendekat. Tidak terburu-buru, tapi ta...