Indonesia di Antara China dan Rusia: Membaca Kedekatan, Menentukan Posisi

Indonesia di Antara China dan Rusia: Membaca Kedekatan, Menentukan Posisi

China dan Rusia hari ini tampak berjalan beriringan. Pertemuan pemimpin, kerja sama energi, serta kesamaan sikap dalam menghadapi Barat membuat keduanya sering dibaca sebagai satu blok kekuatan baru. Namun jika dilihat lebih dalam, hubungan antara China dan Rusia bukanlah aliansi yang lahir dari kesamaan nilai. Ia lebih tepat dipahami sebagai pertemuan kepentingan alignment of interest, not alignment of values.

China bergerak sebagai kekuatan ekonomi masa depan. Dalam beberapa dekade terakhir, transformasi ekonominya menunjukkan kemampuan negara untuk mengelola pertumbuhan dengan kombinasi kontrol pusat dan fleksibilitas lokal, sebuah model yang sering dibaca sebagai adaptasi khas, bukan sekadar adopsi Barat. Di sisi lain, Rusia berdiri sebagai kekuatan yang berbeda: tidak dominan secara ekonomi global, tetapi tetap memiliki pengaruh besar melalui kekuatan militer dan sumber daya energi.

Dua karakter ini saling melengkapi, tetapi tidak menyatu. China membutuhkan stabilitas untuk menjaga pertumbuhan dan ekspansi ekonominya. Rusia, sebaliknya, lebih nyaman bermain dalam ketegangan geopolitik yang membuka ruang tawar. Di titik ini, hubungan keduanya menjadi fungsional: China mendapat dukungan strategis, Rusia memperoleh ruang napas di tengah tekanan Barat.

Namun sejarah menunjukkan bahwa kedekatan ini tidak pernah sepenuhnya tanpa jarak. Pada dekade 1960-an, dunia menyaksikan pecahnya Sino-Soviet Split, konflik yang memperlihatkan bahwa dalam satu spektrum ideologipun , perbedaan kepentingan dapat dengan mudah berubah menjadi rivalitas. Warisan ini tidak hilang, melainkan tersimpan sebagai lapisan laten dalam hubungan keduanya hari ini.

Apa yang kemudian menyatukan China dan Rusia bukanlah kesamaan visi tentang dunia, melainkan kesamaan posisi terhadap satu hal yaitu dominasi Barat. Dalam konteks ini, Amerika Serikat dan sistem global yang dibangunnya menjadi “other” yang membentuk kedekatan tersebut. Aliansi ini, dengan demikian, lebih merupakan respons terhadap tekanan eksternal daripada ekspresi kesatuan internal.

Para pemikir hubungan internasional lama telah mengingatkan bahwa negara tidak bergerak berdasarkan loyalitas, melainkan kepentingan. Apa yang kita lihat hari ini antara China dan Rusia sejalan dengan logika itu. Kedekatan mereka bersifat situasional, bergantung pada sejauh mana kepentingan mereka tetap searah. Selama arah itu sama, hubungan akan terlihat solid. Namun begitu terjadi pergeseran, jarak akan kembali muncul.

Di tengah konfigurasi ini, Indonesia tidak bisa membaca China dan Rusia sebagai satu entitas yang utuh. Keduanya harus dipahami sebagai dua kutub dengan karakter berbeda, yang untuk sementara berada dalam garis kepentingan yang sama. Di sinilah pentingnya posisi Indonesia.

Indonesia berada di kawasan yang menjadi pusat lalu lintas ekonomi global, sekaligus berada dalam orbit kepentingan kekuatan besar. Dengan China, Indonesia memiliki relasi ekonomi yang semakin dalam, dari investasi hingga infrastruktur. Dengan Rusia, Indonesia melihat peluang dalam sektor energi serta alternatif kerja sama di luar dominasi Barat. Sementara itu, hubungan dengan Barat tetap menjadi bagian dari struktur global yang tidak bisa diabaikan.

Dalam situasi seperti ini, posisi Indonesia tidak dapat direduksi menjadi pilihan blok. Dunia tidak lagi bergerak dalam logika bipolar yang sederhana. Yang muncul adalah konfigurasi yang lebih cair, di mana hubungan dibangun, dinegosiasikan, dan diubah sesuai kebutuhan.

Maka pertanyaan bagi Indonesia bukanlah: harus mendekat ke siap.Melainkan  bagaimana membaca setiap kedekatan sebagai peluang, tanpa kehilangan arah.

Jika China dan Rusia membangun hubungan berdasarkan kepentingan, maka Indonesia pun harus melakukan hal yang sama, bukan dengan menjadi pengikut, tetapi dengan menjadi pembaca yang cermat. Kedekatan China-Rusia menunjukkan bahwa bahkan kekuatan besar pun tidak bergerak dalam kesetiaan mutlak. Mereka bergerak dalam kalkulasi.

Dan di dunia yang seperti ini, posisi tidak ditentukan oleh siapa yang kita ikuti, melainkan oleh seberapa baik kita memahami permainan dan seberapa siap kita menentukan langkah di dalamnya.

Jakarta, 13 April 2026
Saskia Ubaidi ( Pustaka Aristoteles)

Comments

Popular posts from this blog

Jalur Pendidikan HBS - Hogereburgerschool

Parlemen Joget, Demokrasi Retak

Tjakrabirawa di malam kelam 1 Oktober 1965