Posts

Kapitalisme Kolonial vs. Ekonomi Kerakyatan: Perdebatan Hatta & Vodegel Sumarnah

Image
Kapitalisme Kolonial vs. Ekonomi Kerakyatan Perdebatan Hatta & Vodegel Sumarnah Dalam sejarah intelektual Indonesia, polemik antara Mohammad Hatta dan NJ Vodegel Sumarnah pada tahun 1939-1940 menjadi bukti bahwa perdebatan ekonomi bukan sekadar soal angka, tetapi menyangkut keadilan sosial dan masa depan rakyat. Polemik ini bukan sekadar debat akademik, tetapi merupakan manifestasi dari dua pandangan yang bertolak belakang mengenai ekonomi kolonial Hindia Belanda. NJ Vodegel Sumarnah, seorang ekonom kolonial Belanda, berargumen bahwa sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan di Hindia Belanda telah membawa kemajuan ekonomi. Menurutnya, industrialisasi, perdagangan, dan investasi asing memberikan manfaat bagi semua, termasuk rakyat pribumi, asalkan mereka bekerja keras dan mengikuti sistem yang ada. Pendek kata, Vodegel percaya pada meritokrasi dalam sistem kapitalis, siapa yang bekerja keras, akan sukses. Mohammad Hatta menentang argumen ini. Menurutnya, kapitalisme kolo...

Pita Kuning di Pohon Tua (Tie a Yellow Ribbon Round the Ole Oak Tree)

Pita Kuning di Pohon Tua Tie a Yellow Ribbon Round the Ole Oak Tree Sudah tiga tahun sejak Raka pergi. Katanya demi masa depan yang lebih baik, tapi bagi Sinta, kepergian itu hanya menyisakan tanda tanya. Ia masih ingat janji yang pernah diucapkan Raka sebelum berangkat. “Kalau kau masih menginginkanku pulang, ikatkan pita kuning di pohon itu.” Tapi kini, di hadapan pohon besar yang dulu mereka jadikan tempat berbagi impian, hatinya diliputi keraguan. Jemarinya sedikit gemetar saat mengikat pita kuning di batang pohon. “Jika kau masih ingat, kau akan melihatnya,” bisiknya pelan. Hari berlalu, malam berganti. Hingga pagi itu, suara deru bus membuyarkan lamunannya. Raka berdiri di sana. Wajahnya lelah, tapi matanya penuh harap. Namun yang membuatnya terpaku bukan hanya Sinta, melainkan pohon yang kini penuh dengan ratusan pita kuning yang berkibar diterpa angin. Ia tertawa kecil, “Sebenarnya satu saja cukup,” gumamnya. Sinta tersenyum, lalu melangkah mendekat. Tidak terburu-buru, tapi ta...